Fenomena PKL di Sekitar Kampus UNS

Apabila kita menelusuri sisi luar kampus UNS di Jalan Ki Hadjar Dewantoro maupun Jalan Ir. Sutami, kita akan dengan mudah menjumpai deretan pedagang kaki lima (PKL) yang menjual beraneka macam barang dagangan. Pada umumnya PKL‐PKL tersebut beroperasi dengan batasan waktu tertentu. Misalnya sepanjang pagi hingga siang hari, atau sepanjang sore hari hingga larut malam. Maka dengan adanya PKL tersebut kehidupan sekitar kampus UNS selalu bedenyut pagi, siang dan malam.

Namun fenomena PKL selalu mengundang kontroversi dan menjadi pesoalan dilematis. Di satu sisi, ia adalah sumber mata pencaharian masyarakat yang tidak sepantasnya dimatikan, namun di sisi lain keberadaannya seringkali mengganggu ketertiban kota. Lalu bagaimana dengan kasus PKL di sekitar kampus UNS? Lanjutkan membaca

Quo Vadis Pejalan Kaki di UNS?

Tanpa kita sadari, jalan di kampus kita memang didesain dan direncanakan untuk mengutamakan pergerakan kendaraan bermotor. Perhatikanlah dimensi, geometri, permukaan, dan rambu-rambu jalan yang lebih ditujukan untuk pengguna motor atau mobil. Sementara kebutuhan pejalan kaki akan lajur pedestrian belum terakomodir dengan baik.

Dulu pedestrian di sepanjang Boulevard tidak benar-benar lurus, ia terputus di bagian jembatan. Maka pada medio 2007 yang lalu pedestrian di bagian tersebut ‘diluruskan’ dan bahkan dibuatkan lajur khusus berupa jembatan baru di sisi kanan dan kiri jalan. Langkah yang ditempuh pengelola kampus kita itu cukup patut untuk diapresiasi, karena dengan adanya lajur tersebut membuat pejalan kaki lebih nyaman melintasinya. Namun, sayangnya lajur pedestrian itu hanya dibangun sampai sekitar 20 m dari jembatan itu. Kemudian pedestrian benar-benar terputus alias tidak ada lagi sambungannya.

Akibat terputusnya lajur pedestrian tersebut, para pejalan kaki terpaksa harus turun ke badan jalan untuk melanjutkan perjalanannya. Apalagi dengan kembali diterapkannya sistem arus jalan dua arah di UNS semakin memperparah ketidaknyamanan para pejalan kaki. Jalan yang menjadi semakin ramai dan kapasitasnya berkurang membuat pejalan kaki harus lebih berhati-hati agar tidak terserempet kendaraan. Untuk mengantisipasinya, pejalan kaki akan berjalan semakin ke pinggir, terkalahkan oleh motor atau mobil yang melaju di sisinya. Dengan kondisi yang demikian, maka pejalan kaki pun menjadi kaum yang termarjinalkan di antara para pemanfaat jalan kampus kita.

Lanjutkan membaca

Modal Sosial dalam Perencanaan

Perencanaan sebagai sebuah disiplin ilmu berkembang di Inggris pasca perang dunia kedua. Pada awalnya perencanaan berfokus pada aspek desain saja (perencanaan fisik) namun dalam perkembangannya perencanaan menjadi ilmu yang interdisiplin, bidang kajiannya menjadi sangat luas yaitu memasukkan aspek sosial-ekonomi-budaya. Cakupan kajian yang luas—pensinergian dari berbagai macam ilmu (terutama ilmu tata guna lahan dan ilmu-ilmu sosial)—tidak jarang membuat orang bingung mengenai basis ilmu perencanaan atau specialized knowledge yang membedakan disiplin perencanaan dengan disiplin lainnya.

Di negara berkembang seperti Indonesia, umumnya para perencana masih canggung untuk membahas aspek yang luas dan membatasi diri pada perencanaan fisik. Padahal dengan penguasaan disiplin perencanaan sebagai sebuah ilmu interdisiplin (tidak hanya sekadar aspek fisik lingkungan, namun juga aspek-aspek sosial) tujuan-tujuan perencanaan itu akan lebih mudah tercapai. Karena masyarakat bukan sesuatu yang homogen, dan perencana harus menentukan apa yang terbaik bagi masyarakat, maka belakangan dicetuskan mengenai penerapan suatu produk interaksi sosial dalam perencanaan, yang disebut sebagai modal sosial.

Lanjutkan membaca

Agropolitan Development

Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di perdesaan pada umumnya masih tertinggal jauh dibandingkan mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan ekonomi dan proses indutrialisasi, dimana investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan. Selain itu kegiatan ekonomi yang dikembangkan di daerah perkotaan masih banyak yang tidak sinergis dengan yang dikembangkan di daerah perdesaan. Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perdesaan, justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan perdesaan.

Oleh karena itu, dalam konstelasi kota-kota dewasa ini, semestinya kawasan perdesaan semakin diperhitungkan keberadaannya. Daripada menganggap desa dan kota sebagai suatu dikotomi, akan lebih sesuai untuk menjelaskan desa-kota sebagai sebuah fenomena yang bertautan, di mana masyarakat di dalamnya secara bersama memecahkan masalah kemiskinan, perkembangan ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Lanjutkan membaca

From Metropolis to Ecopolis

 

Kota diklaim sebagai magnet kuat dari ekspektasi akan penghidupan yang lebih layak. Bayangkan, setiap harinya penduduk perkotaan di dunia bertambah 180.000 orang. Dan diperkirakan pada tahun 2030, 60 persen penduduk dunia hidup di perkotaan. Ya, urbanisasi telah menjadi masalah laten perkotaan yang sangat kuat dan tak terelakkan. Parahnya, pertumbuhan arus migrasi yang tinggi ini tidak diikuti oleh kesiapan daya dukung lingkungan menerima beban tambahan penduduk. Ketimpangan ini menimbulkan problematika sosial dan lingkungan yang kompleks, meskipun harus diakui pula bahwa penduduk migran telah ikut berpartisipasi membangun kota.

Akan lebih arif jika kita mempertimbangkan dua sisi karakter kota secara bersama-sama, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat Muhammad Yusuf Asy’ari bahwa pada satu sisi, dengan skala ekonomi, aglomerasi penduduk, dan diversifikasi produksinya, kota berfungsi sebagai katalis bagi perkembangan nasional. Namun, di sisi lain, pola konsumsi dan besarnya sumber daya alam yang diserap kota telah mengancam keseimbangan ekosistem.

Lanjutkan membaca

Campus Pedestrian

kampus kita adalah kampus yang tidak manusiawi. kenapa? karena kampus kita dibangun untuk mobil dan kendaraan bermotor bukan untuk manusia berjalan.kalau akan berjalan kita akan selalu dirisaukan oleh kendaraan bermotor yang dapat saja tiba-tiba lewat dan mengancam nyawa kita. seringkali pejalan kaki diabaikan dan dilecehkan karena tidak memiliki jalur pedestrian yang terpisah dari jalan raya. pejalan kaki selalu dikalahkan dengan kendaraan bermotor.

tidak sedikit mahasiswa uns yang berjalan kaki untuk mencapai tempat yang ditujunya di dalam kampus. hal ini tidak hanya terkait dengan kemampuan mahasiswa dalam membeli motor, tapi lebih dari itu. dengan menyediakan pedestrian yang nyaman akan mendorong mahasiswa untuk berjalan kaki menuju kampus. hal ini akan mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang berlalu lalang setiap harinya di jalan raya. dengan demikian polusi udara dapat diminimalisir dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak, sesuai dengan konsep sustainable development.
Lanjutkan membaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.