You are currently browsing the daily archive for April 21st, 2008.
Tanpa kita sadari, jalan di kampus kita memang didesain dan direncanakan untuk mengutamakan pergerakan kendaraan bermotor. Perhatikanlah dimensi, geometri, permukaan, dan rambu-rambu jalan yang lebih ditujukan untuk pengguna motor atau mobil. Sementara kebutuhan pejalan kaki akan lajur pedestrian belum terakomodir dengan baik.
Dulu pedestrian di sepanjang Boulevard tidak benar-benar lurus, ia terputus di bagian jembatan. Maka pada medio 2007 yang lalu pedestrian di bagian tersebut ‘diluruskan’ dan bahkan dibuatkan lajur khusus berupa jembatan baru di sisi kanan dan kiri jalan. Langkah yang ditempuh pengelola kampus kita itu cukup patut untuk diapresiasi, karena dengan adanya lajur tersebut membuat pejalan kaki lebih nyaman melintasinya. Namun, sayangnya lajur pedestrian itu hanya dibangun sampai sekitar 20 m dari jembatan itu. Kemudian pedestrian benar-benar terputus alias tidak ada lagi sambungannya.
Akibat terputusnya lajur pedestrian tersebut, para pejalan kaki terpaksa harus turun ke badan jalan untuk melanjutkan perjalanannya. Apalagi dengan kembali diterapkannya sistem arus jalan dua arah di UNS semakin memperparah ketidaknyamanan para pejalan kaki. Jalan yang menjadi semakin ramai dan kapasitasnya berkurang membuat pejalan kaki harus lebih berhati-hati agar tidak terserempet kendaraan. Untuk mengantisipasinya, pejalan kaki akan berjalan semakin ke pinggir, terkalahkan oleh motor atau mobil yang melaju di sisinya. Dengan kondisi yang demikian, maka pejalan kaki pun menjadi kaum yang termarjinalkan di antara para pemanfaat jalan kampus kita.
Perencanaan sebagai sebuah disiplin ilmu berkembang di Inggris pasca perang dunia kedua. Pada awalnya perencanaan berfokus pada aspek desain saja (perencanaan fisik) namun dalam perkembangannya perencanaan menjadi ilmu yang interdisiplin, bidang kajiannya menjadi sangat luas yaitu memasukkan aspek sosial-ekonomi-budaya. Cakupan kajian yang luas—pensinergian dari berbagai macam ilmu (terutama ilmu tata guna lahan dan ilmu-ilmu sosial)—tidak jarang membuat orang bingung mengenai basis ilmu perencanaan atau specialized knowledge yang membedakan disiplin perencanaan dengan disiplin lainnya.
Di negara berkembang seperti Indonesia, umumnya para perencana masih canggung untuk membahas aspek yang luas dan membatasi diri pada perencanaan fisik. Padahal dengan penguasaan disiplin perencanaan sebagai sebuah ilmu interdisiplin (tidak hanya sekadar aspek fisik lingkungan, namun juga aspek-aspek sosial) tujuan-tujuan perencanaan itu akan lebih mudah tercapai. Karena masyarakat bukan sesuatu yang homogen, dan perencana harus menentukan apa yang terbaik bagi masyarakat, maka belakangan dicetuskan mengenai penerapan suatu produk interaksi sosial dalam perencanaan, yang disebut sebagai modal sosial.

Komentar Terakhir