dengan nama Allah, Rabb kami yang maha besar dan pemberi karunia pemikiran kami.

saya percaya kalau islam adalah rahmatan lil alamin, artinya islam ada untuk menjadi cahaya bagi seluruh umat manusia di dunia tidak terkecuali. termasuk mereka yang tidak sepaham dengan kita. kehadiran islam membuka cakrawala baru dalam dunia. kehadiran islam harus menaungi seluruh kehidupan di bumi ini, karena hanya di bawah pemerintahan islam saja dunia ini bisa hidup dengan damai dan adil, terlepas dari dominasi penguasa yang dzalim.

menurut saya, dalam skala kecil kita dapat menerapkan konsep diatas di kehidupan kita sehari-hari. setiap dari kita, muslim harus dapat menerapkan islam dalam bidang kita masing-masing. karena hanya islam lah jalan keluar terbaik, dan kita harus senantiasa berpegang kepadanya. semua usaha kita dalam mencari sistem lain di luar islam hanya berputar2 dan kemudian akhirnya malah menguatkan apa yang tertulis dalam al-Quran. akan tetapi kita tidak boleh lantas menjadi pasif dan menjadi kontra-creative, kita berpikir keras untuk mengekstrak ilmu-ilmu dan ajaran mulia yang terdapat dalam al-Quran untuk kemudian di terapkan dalam disiplin ilmu kita.

dahulu saya pernah mendengar cerita tentang seorang pengintai pasukan salib yang ditugaskan untuk menyelidiki kekuatan dan kondisi kaum muslimin di baraknya, ketika melapor sang pengintai itu mengatakan kalau malam pasukan muslim seperti pendeta-pendeta akan tetapi siang harinya mereka gagah seperti singa. dari cerita pendek ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa muslim itu tidak boleh dan tidak dapat dipisahkan dari islam. tidak seperti penggolongan masyarakat barat yang memisahkan golongan pemuka agama dan manusia biasa. akibatnya agama cuma terdapat di tempat2 ibadah dan acara-acara ritual saja, tidak di terapkan ke kehidpan sehari2.

terkait dengan bidang kerja kita, arsitektur, pertama2 kita haruslah peka dengan permasalahan tentang ummat islam yang tengah berkembang di masyarakat. jangan kita terpisah dengan ummat kita. kepekaan kita berhubungan erat dengan hasil desain. jangan sampai kita menjadi arsitek yang sekular, mengingat sebagian besar masyarakat indonesia beragama islam. kita harus dapat menonjolkan corak keislaman kita di manapun kita berada.

sering saya memasuki pusat perbelanjaan atau hotel megah yang memiliki puluhan lantai akan tetapi tidak memiliki satupun ruangan yang dialokasikan untuk musholla. kebanyakan musholla yang ada merupakan musholla ‘darurat’ yang diadakan atas inisiatif karyawan tempat itu. mengapa saya katakan darurat? karena fasilitas tersebut sangat jauh dari persyaratan standar untuk musholla. di beberapa tempat ‘mushola’ tersebut diletakkan di tempat parkir lantai dasar yang berisik dengan hanya memiliki satu pintu masuk dengan 3 shaf di dalamnya, termasuk shaf untuk imam! laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan dengan hijab. saya jadi berpikir dimanakah pikiran arsitek dari bangunan ini? seorang arsitek kan seharus nya memikirkan semua kebutuhan usernya. tapi soal musholla ini saja dia sudah terlewat, atau dia tidak menganggap penting arti penting sholat?

auriza@gmail.com