Kota diklaim sebagai magnet kuat dari ekspektasi akan penghidupan yang lebih layak. Bayangkan, setiap harinya penduduk perkotaan di dunia bertambah 180.000 orang. Dan diperkirakan pada tahun 2030, 60 persen penduduk dunia hidup di perkotaan. Ya, urbanisasi telah menjadi masalah laten perkotaan yang sangat kuat dan tak terelakkan. Parahnya, pertumbuhan arus migrasi yang tinggi ini tidak diikuti oleh kesiapan daya dukung lingkungan menerima beban tambahan penduduk. Ketimpangan ini menimbulkan problematika sosial dan lingkungan yang kompleks, meskipun harus diakui pula bahwa penduduk migran telah ikut berpartisipasi membangun kota.

Akan lebih arif jika kita mempertimbangkan dua sisi karakter kota secara bersama-sama, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat Muhammad Yusuf Asy’ari bahwa pada satu sisi, dengan skala ekonomi, aglomerasi penduduk, dan diversifikasi produksinya, kota berfungsi sebagai katalis bagi perkembangan nasional. Namun, di sisi lain, pola konsumsi dan besarnya sumber daya alam yang diserap kota telah mengancam keseimbangan ekosistem.

Kita juga perlu merenungkan pernyataan Le Corbusier—seorang arsitek kenamaan dari Perancis—yang menohok tapi sesungguhnya cukup introspektif, yakni “…suatu kenyataan, bahwa kota-kota besar yang ada sekarang merupakan hasil dari pembantaian terhadap alam”.

Metropolis-metropolis baru akan senantiasa tumbuh seiring semakin manisnya gula-gula perkotaan bagi semut-semut migran yang ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Barangkali pertanyaan yang akan timbul suatu saat nanti di tengah hiruk pikuk kehidupan metropolitan adalah bagaimana kita dapat menikmati langit yang biru, udara yang segar, air yang jernih, lahan subur yang bebas dari polutan, atau kicauan burung di antara rimbun dedaunan, sementara kota kita tak lagi mampu menawarkannya untuk kita nikmati.

Sudah hampir tiga dekade konsep kota ekologi (ecological city) atau yang lebih populer dengan sebutan ecopolis dilemparkan ke publik. Ecopolis ini merupakan upaya mensinergikan pola pemukiman penduduk ke dalam pola kehidupan alam, sehingga kota-kota itu akan menjadi tempat pelestarian daya dukung lingkungan dan sekaligus peningkatan aktivitas ekonomi. Konsep ecopolis membiarkan lebih bnayak lahan kembali ke fungsi alaminya, misalnya membuat taman kota yang luas sebagai penangkal polusi udara, debu dan bising, sekaligus sebagai tempat rekreasi gratis bagi penduduknya.

Partisipasi masyarakat menjadi bagian integral dari program kota ekologi karena strategi perencanaannya berkembang dari grass roots. Manakala orang-orang metropolis sibuk mencari privacy, ecopolis mencari kebersamaan yang kental, penduduk didistribusikan di daerah pinggiran (suburb), sehingga menjadi lebih seimbang dan human centered. Bukankah Shakespeare pun pernah berujar, “What’s a city but its people…”?

Jakarta, metropolis terbesar di negeri ini, juga terus berjibaku menuju kota yang sustainable. Meskipun porsi city beautification-nya masih saja selalu lebih besar dibanding pendekatan kearifan ekologinya yang semestinya lebih dikedepankan. Mengubah sebuah metropolis ke ecopolis memang bukan perkara yang mudah, apalagi jika kota tersebut telah digerogoti penyakit kronis yang laten dan sukar disembuhkan. Namun itu bukan sebuah wacana yang utopis, karena sudah banyak negara tetangga yang cukup sukses menerapkan konsep kota ekologi. Sebut saja yang terdekat seperti Singapura atau Malaysia, dan tidak ada salahnya jika kita belajar padanya.

Ecopolis menunjukkan pada kita membangun sebuah kota tidak sekadar memerlukan kecerdikan, namun juga kearifan. Act locally, think globally![PS]