Apabila kita menelusuri sisi luar kampus UNS di Jalan Ki Hadjar Dewantoro maupun Jalan Ir. Sutami, kita akan dengan mudah menjumpai deretan pedagang kaki lima (PKL) yang menjual beraneka macam barang dagangan. Pada umumnya PKLPKL tersebut beroperasi dengan batasan waktu tertentu. Misalnya sepanjang pagi hingga siang hari, atau sepanjang sore hari hingga larut malam. Maka dengan adanya PKL tersebut kehidupan sekitar kampus UNS selalu bedenyut pagi, siang dan malam.


Namun fenomena PKL selalu mengundang kontroversi dan menjadi pesoalan dilematis. Di satu sisi, ia adalah sumber mata pencaharian masyarakat yang tidak sepantasnya dimatikan, namun di sisi lain keberadaannya seringkali mengganggu ketertiban kota. Lalu bagaimana dengan kasus PKL di sekitar kampus UNS?

Ditinjau dari lokasinya, PKL di sekitar kampus UNS dapat dikelompokkan menjadi dua. Yang pertama adalah PKL di depan kampus, yaitu PKL yang beraglomerasi di depan gerbang UNS (boulevard), di Jalan Ir. Sutami. PKL di depan kampus ini memiliki pola persebaran konsentris (memusat) dengan jenis dagangan makanan dan minuman dan kuantitasnya relatif sedikit. Yang kedua adalah PKL di belakang kampus. Kelompok PKL ini memiliki persebaran linear sepanjang Jalan Ki Hadjar Dewantoro yang berbatasan dengan dinding pagar UNS. Jumlah PKL di belakang kampus ini relatif lebih banyak dan jenis dagangannya lebih bervariasi dibanding yang ada di depan kampus.

PKL di sekitar kampus UNS membidik mahasiswa sebagai pangsa pasar terbesar. Terutama mahasiswa yang tinggal di sekitar UNS. Bagi mahasiswa keberadaannya sangat menguntungkan, karena PKL tersebut menawarkan pemenuhan basic needs seperti makan, minum, dengan harga yang relatif murah dan mudah diakses dari titiktitik aktivitas mahasiswa—kampus dan pondokan (kost). Aksesibilitas dan harga ini menjadi dua kunci penting yang menjadikan PKL tetap dibutuhkan dan dicari oleh oleh mahasiswa.

Keberadaan PKL di sekitar UNS ditinjau dari sisi arsitektur kota cenderung mengganggu estetika. Kesan semrawut yang ditimbulkan memang tidak sedap dipandang. Apalagi mereka mengokupasi lahanlahan kosong di sekeliling kampus secara ilegal. PKL seringkali juga mengganggu ketertiban, karena pembeli berkendaraan yang datang biasanya memarkirkan kendaraannya di badan jalan akibat keterbatasan tempat. Kondisi ini akan berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Pada dasarnya, PKL adalah sektor informal yang tumbuh pesat akibat keterbatasan peluang kerja di sektor formal. Walaupun pada kenyataannya sektor informal di Indonesia secara tidak memadai dikategorikan sebagai “lumpen proletariat” atau “proto proletariat“.

pedagang kaki lima

Adapun kebijakan dan regulasi pemerintah kota selama ini tidak mengakomodasi sektor tersebut sebagai sektor ekonomi penting, baik dalam rencana tata ruang atau pun dalam strategi pengembangan ekonomi kota. Padahal PKL memberi kontribusi pendapatan yang cukup signifikan bagi masyarakat yang akhirnya memberikan kesejahteraan dan ikut berkontribusi dalam mendorong pemerataan ekonomi lokal.

Kecenderungan penataan ruang kota di berbagai kota cenderung represif, berupa aturan dan larangan yang keras ketimbang pembinaan dan perwadahan yang fleksibel. Peran perencanaan dan pengelola kota sebagai manageralist, perlu diperkaya dengan wawasan pluralist, agar dapat selalu bersikap netral dan adil dalam menjalankan fungsinya.

Oleh karena itu untuk menyikapi persoalan PKL di sekitar UNS, semestinya tidak perlu dengan diadakan sebuah penggusuran atas nama K3 (ketertiban, kebersihan dan keindahan). Di sisi lain menegakkan peraturan, pengelola kota tidak dapat mengesampingkan segi sosiologis, yaitu perilaku masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Kota memang terbentuk dari perangkat keras seperti bangunan dan jalan. Tetapi yang menghidupkan kota itu sendiri adalah manusia dengan segenap perilakunya. Ada hubungan yang erat antara city (kota) dan citizen (warga). Saling hubungan ini yang acap kali terlupakan.

Jika selama ini masyarakat umum masih menerima dan senang dengan keberadaan PKLPKL tersebut, untuk apa digusur yang kemudian justru akan menimbulkan pertentangan dari masyarakat? Karena Aristoteles pun berkata : “The goal of the city is to make man happy…”

Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengakomodasi PKL tersebut dalam konteks kebijakan publik. Sehingga ditemukan adanya winwin solution. PKL‐PKL yang tersebar di sekitar UNS jika dikelola dengan baik, bisa menjadi ikon menarik bagi kawasan sekitar UNS sendiri. Bahkan di kotakota semaju London, New York atau Tokyo pun banyak terdapat aneka ragam PKL yang dinilai sangat manusia dan disebut “instant city“. Bagaikan tahi lalat, keberadaannya justru menambah kecantikan wajah (Budihardjo, 1993).

Sejauh ini pemerintah kota Solo telah membuatkan 100 kios untuk menampung pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Ki Hadjar Dewantoro (Solopos, 15 November 2007). Dan ini tentu saja perlu dibarengi dengan manajerial yang baik. Seperti penarikan retribusi untuk pengelolaan dan kebersihan kawasan PKL itu. Serta penyediaan kantong parkir yang memadai.[]

Tanpa kita sadari, jalan di kampus kita memang didesain dan direncanakan untuk mengutamakan pergerakan kendaraan bermotor. Perhatikanlah dimensi, geometri, permukaan, dan rambu-rambu jalan yang lebih ditujukan untuk pengguna motor atau mobil. Sementara kebutuhan pejalan kaki akan lajur pedestrian belum terakomodir dengan baik.

Dulu pedestrian di sepanjang Boulevard tidak benar-benar lurus, ia terputus di bagian jembatan. Maka pada medio 2007 yang lalu pedestrian di bagian tersebut ‘diluruskan’ dan bahkan dibuatkan lajur khusus berupa jembatan baru di sisi kanan dan kiri jalan. Langkah yang ditempuh pengelola kampus kita itu cukup patut untuk diapresiasi, karena dengan adanya lajur tersebut membuat pejalan kaki lebih nyaman melintasinya. Namun, sayangnya lajur pedestrian itu hanya dibangun sampai sekitar 20 m dari jembatan itu. Kemudian pedestrian benar-benar terputus alias tidak ada lagi sambungannya.

Akibat terputusnya lajur pedestrian tersebut, para pejalan kaki terpaksa harus turun ke badan jalan untuk melanjutkan perjalanannya. Apalagi dengan kembali diterapkannya sistem arus jalan dua arah di UNS semakin memperparah ketidaknyamanan para pejalan kaki. Jalan yang menjadi semakin ramai dan kapasitasnya berkurang membuat pejalan kaki harus lebih berhati-hati agar tidak terserempet kendaraan. Untuk mengantisipasinya, pejalan kaki akan berjalan semakin ke pinggir, terkalahkan oleh motor atau mobil yang melaju di sisinya. Dengan kondisi yang demikian, maka pejalan kaki pun menjadi kaum yang termarjinalkan di antara para pemanfaat jalan kampus kita.

Read the rest of this entry »

Perencanaan sebagai sebuah disiplin ilmu berkembang di Inggris pasca perang dunia kedua. Pada awalnya perencanaan berfokus pada aspek desain saja (perencanaan fisik) namun dalam perkembangannya perencanaan menjadi ilmu yang interdisiplin, bidang kajiannya menjadi sangat luas yaitu memasukkan aspek sosial-ekonomi-budaya. Cakupan kajian yang luas—pensinergian dari berbagai macam ilmu (terutama ilmu tata guna lahan dan ilmu-ilmu sosial)—tidak jarang membuat orang bingung mengenai basis ilmu perencanaan atau specialized knowledge yang membedakan disiplin perencanaan dengan disiplin lainnya.

Di negara berkembang seperti Indonesia, umumnya para perencana masih canggung untuk membahas aspek yang luas dan membatasi diri pada perencanaan fisik. Padahal dengan penguasaan disiplin perencanaan sebagai sebuah ilmu interdisiplin (tidak hanya sekadar aspek fisik lingkungan, namun juga aspek-aspek sosial) tujuan-tujuan perencanaan itu akan lebih mudah tercapai. Karena masyarakat bukan sesuatu yang homogen, dan perencana harus menentukan apa yang terbaik bagi masyarakat, maka belakangan dicetuskan mengenai penerapan suatu produk interaksi sosial dalam perencanaan, yang disebut sebagai modal sosial.

Read the rest of this entry »

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ajaran Islam tidak menggariskan ketentuan-ketentuan tertentu tentang bangunan. Tentang penggunaan kubah atau menara adzan (minarets) tidak lebih dari sekedar penyelesaian struktural.

Namun kita juga meyakini bahwa Islam adalah agama yang bersifat syumuliah yaitu bersifat menyeluruh, selama ini kita meyakini bahwa Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia. sistem dalam islam adalah lengkap dan sempurna, dari aspek ekonomi, hukum dan sosial serta etika tidak luput dari aturan Islam.

Lalu kenapa kita terburu-buru mengatakan bahwa arsitektur islam itu tidak ada?

Read the rest of this entry »

dengan nama Allah, Rabb kami yang maha besar dan pemberi karunia pemikiran kami.

saya percaya kalau islam adalah rahmatan lil alamin, artinya islam ada untuk menjadi cahaya bagi seluruh umat manusia di dunia tidak terkecuali. termasuk mereka yang tidak sepaham dengan kita. kehadiran islam membuka cakrawala baru dalam dunia. kehadiran islam harus menaungi seluruh kehidupan di bumi ini, karena hanya di bawah pemerintahan islam saja dunia ini bisa hidup dengan damai dan adil, terlepas dari dominasi penguasa yang dzalim.

menurut saya, dalam skala kecil kita dapat menerapkan konsep diatas di kehidupan kita sehari-hari. setiap dari kita, muslim harus dapat menerapkan islam dalam bidang kita masing-masing. karena hanya islam lah jalan keluar terbaik, dan kita harus senantiasa berpegang kepadanya. semua usaha kita dalam mencari sistem lain di luar islam hanya berputar2 dan kemudian akhirnya malah menguatkan apa yang tertulis dalam al-Quran. akan tetapi kita tidak boleh lantas menjadi pasif dan menjadi kontra-creative, kita berpikir keras untuk mengekstrak ilmu-ilmu dan ajaran mulia yang terdapat dalam al-Quran untuk kemudian di terapkan dalam disiplin ilmu kita.
Read the rest of this entry »

Pada diskusi-diskusi oleh arsitek-arsitek ternama sebelumnya kita dapat memperhatikan kesamaan dari presentasi yang mereka sampaikan, mereka berusaha untuk membuka mata kita tentang masa depan. Mereka selalu berpikir secara jangka panjang kedepan, memperkirakan tren yang mungkin akan muncul pada tahun-tahun kedepan dengan memperhatikan kecenderungan yang ada pada saat ini.

Lebih jauh lagi pada video presentasi dari mvrdv, mereka bahkan berusaha untuk memprediksikan perubahan iklim yang ada pada lima puluh sampai seratus tahun kedepan. Dan menerapkan kecenderungan tersebut pada karya arsitekturnya.

Sejauh apa yang saya lihat dan perhatikan dari diskusi-diskusi di kampus dan forum-forum diskusi di internet, saat ini umat islam terlalu sibuk untuk merunut jati diri arsitektur islam dengan melihat jejak kebelakang. Kita sudah terlena dengan bayang-bayang kejayaan dunia islam di waktu lampau, sehingga tidak siap untuk menghadapi masa depan.

Read the rest of this entry »

Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di perdesaan pada umumnya masih tertinggal jauh dibandingkan mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan ekonomi dan proses indutrialisasi, dimana investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan. Selain itu kegiatan ekonomi yang dikembangkan di daerah perkotaan masih banyak yang tidak sinergis dengan yang dikembangkan di daerah perdesaan. Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perdesaan, justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan perdesaan.

Oleh karena itu, dalam konstelasi kota-kota dewasa ini, semestinya kawasan perdesaan semakin diperhitungkan keberadaannya. Daripada menganggap desa dan kota sebagai suatu dikotomi, akan lebih sesuai untuk menjelaskan desa-kota sebagai sebuah fenomena yang bertautan, di mana masyarakat di dalamnya secara bersama memecahkan masalah kemiskinan, perkembangan ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Read the rest of this entry »

 

Kota diklaim sebagai magnet kuat dari ekspektasi akan penghidupan yang lebih layak. Bayangkan, setiap harinya penduduk perkotaan di dunia bertambah 180.000 orang. Dan diperkirakan pada tahun 2030, 60 persen penduduk dunia hidup di perkotaan. Ya, urbanisasi telah menjadi masalah laten perkotaan yang sangat kuat dan tak terelakkan. Parahnya, pertumbuhan arus migrasi yang tinggi ini tidak diikuti oleh kesiapan daya dukung lingkungan menerima beban tambahan penduduk. Ketimpangan ini menimbulkan problematika sosial dan lingkungan yang kompleks, meskipun harus diakui pula bahwa penduduk migran telah ikut berpartisipasi membangun kota.

Akan lebih arif jika kita mempertimbangkan dua sisi karakter kota secara bersama-sama, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat Muhammad Yusuf Asy’ari bahwa pada satu sisi, dengan skala ekonomi, aglomerasi penduduk, dan diversifikasi produksinya, kota berfungsi sebagai katalis bagi perkembangan nasional. Namun, di sisi lain, pola konsumsi dan besarnya sumber daya alam yang diserap kota telah mengancam keseimbangan ekosistem.

Read the rest of this entry »

kampus kita adalah kampus yang tidak manusiawi. kenapa? karena kampus kita dibangun untuk mobil dan kendaraan bermotor bukan untuk manusia berjalan.kalau akan berjalan kita akan selalu dirisaukan oleh kendaraan bermotor yang dapat saja tiba-tiba lewat dan mengancam nyawa kita. seringkali pejalan kaki diabaikan dan dilecehkan karena tidak memiliki jalur pedestrian yang terpisah dari jalan raya. pejalan kaki selalu dikalahkan dengan kendaraan bermotor.

tidak sedikit mahasiswa uns yang berjalan kaki untuk mencapai tempat yang ditujunya di dalam kampus. hal ini tidak hanya terkait dengan kemampuan mahasiswa dalam membeli motor, tapi lebih dari itu. dengan menyediakan pedestrian yang nyaman akan mendorong mahasiswa untuk berjalan kaki menuju kampus. hal ini akan mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang berlalu lalang setiap harinya di jalan raya. dengan demikian polusi udara dapat diminimalisir dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak, sesuai dengan konsep sustainable development.
Read the rest of this entry »